Belajar dari usaha Bapak Kusrin

Tahun 2009 lalu Muhammad Kusrin (41) masih bekerja sebagai tukang bangunan. Hingga ketika dia bekerja di Jakarta,
berawal dari hobi memperbaiki radio rusak yang dibeli seharga Rp 80.000 di pasar Jatinegara dan dia jual kembali dengan harga Rp 200.000.
Hasil penjualan itu lalu dibelikan pesawat FM jarak jauh untuk komunikasi dengan temen tukang servis kemudian belajar sama mereka.
Dari relasinya itulah Kusrin belajar banyak soal TV dan elektronik. Bahkan bersama beberapa temannya mereka membuat jasa servis elektronik sendiri sekitar 4 tahun.
Lalu ada teman nunjukin bikin TV ternyata dari tabung komputer bekas. Waktu itu belum sempurna cuma diambil tabungnya, untuk lainnya masih pake alat TV,” ujar Kusrin.
Dan dari situ ide merakit televisi sendiri muncul. Setelah mempunyai modal yang cukup, pada tahun 2011 dia mulai merintis usaha merakit televisinya.

Dengan modal yang dikumpulkan selama 4 tahun menjadi tukang servis, Kusrin mulai menggeluti bisnis perakitan televisi.  “Bukan dari pinjaman. Dulu saya kerja jadi teknisi 4 tahun,” tegas dia.
Ketika awal merintis, dia dan 3 orang karyawannya mampu merakit 30 hingga 40 televisi per hari. Televisi yang dia produksi merupakan TV tabung berukuran 15 inci hingga 17 inci dijual dengan kisaran harga sebesar Rp 300.000 – Rp 400.000. Usahanya terus berkembang, hingga tahun 2015 dia sudah mempekerjakan 32 karyawan dan dapat memproduksi hingga 150 unit TV per hari.

Sayangnya pada Maret 2015 lalu, bisnis perakitan televisi Kusrin ini digerebek oleh polisi karena tidak mempunyai SNI.Usaha perakitan TV Kusrin dianggap melanggar Undang-Undang No 3/2014 Tentang Perindustrian serta Perubahan Permendagri tentang Pemberlakuan Barang Standard Nasional Indonesia (SNI).
Akibatnya, Kusrin divonis enam bulan penjara dengan masa percobaan satu tahun serta denda Rp 2,5 juta subsider dua bulan kurungan.

Tidak hanya itu, seluruh televisi rakitan Kusrin, sebanyak 118 buah dimusnahkan Kejaksaan Negeri Karanganyar. Pemusnahan sejumlah televisi milik Kusni itu mengakibatkan kerugian finansial bagi Kusni sebesar Rp 56 juta.
“Modal yang saya kumpulkan 4 tahun habis dalam 5 menit. Kenyataannya begitu,” keluh Kusrin langsung di hadapan Menteri Perindustrian Saleh Husin di Jakarta.
dan akan tetap lanjut bagaimanapun caranya sebab yang saya perjuangkan itu adalah bagaimana agar karyawan-karyawan tetap bisa punya pekerjaan,” tambah Kusrin
Namun, setelah urusan hukum usai, Kusrin mendapat dukungan pemerintah untuk melanjutkan usahanya terutama dari Presiden Bapak Jokowi
Saat menyerahkan Sertifikat SNI kepada Kusrin,  Menteri Perindustrian Saleh Husin berharap kejadian yang dialami oleh Kusrin tidak terulang lagi.

Screenshot_1

 

Untuk Informasi  Lebih Lengkap atau Pemesanan SOFTWARE ACCURATE Silahkan Hubungi:
Nova
HP/WA    : 0812-88013642
Pin BB      : 7E587660
YM            : novasabena@yahoo.com

 

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *